Monday, December 24, 2007

Pluralisme Peradaban

Pluralisme merupakan paham tentang keberagaman dan kemajemukan. Pluralisme adalah sebuah keintelektualan manusia yang mengantarakan pada pola pikir kearah hidup yang lebih heterogen. Seperti meanstrem terhadap perbedaan sebuah ideology, social, politik serta kebudayaan dan agama. Paham plural telah ada sejak keberadaan manusia, dimana manusia memiliki sifat dan tindakan yang beragam tersebut. Sejak Adam di turunkan dimuka bumi dengan diperkenalkan pada berbagai realitas alam sebagai tanda-tanda kehidupan. Ini menandakan bahwa pluralisme bukan lah sesuatu yang baru yang menjadikan manusia akan terbentuk dalam persaingan dan keegoan hidup. Namun pluralisme dalam konteks kekinian memiliki problem terutama dari segi penamaan dan penyikapan terhadapnya.

Pada masa Islam klasik, pluralisme di bahasakan dengan pembahasaan yang lain yaitu Wihdat Al-Adyan (keesaan wujud). Manusia diciptakan dengan beragam jenis dan bentuk serta agama yang berbeda tetapi tetap satu. Kita telah diperlihatkan dengan berbagai bentuk material baik dari segi perbedaan tempat tinggal, suku, budaya sampai pada bangsa, namun kita tetap dalam satu wadah yaitu bumi. Agama telah mengajarkan kita kepada pemahaman yang berbeda baik dari akidah (penyembahan dan pengabdian kepada Nya) maupun akhlak (pola sikap) namun tetap dalam kiblat yang sama kepada wujud yang satu. Hindu dengan penyembahanya kepada dewa, Kristen dengan trinitasnya dan islam dengan ketunggalannya penyembahanan (shadatnya) tetapi tetap satu tujuan yaitu kepada Tuhan Yang Maha Segalanya.

Peradaban adalah suatu bentuk perubahan tatanan menuju sebuah kesejahteraan hidup. Kesejahteraan merupakan sesuatu satu hal yang di iming-imingi oleh semua manusia. Baik peradaban dalam bentuk budaya, social maupun politik. Dalam pemaknaan peradaban menjadi perdebatan yang vital antara kelompok fundamentalis agama dan kaum liberalis.
Kelompok Fundamentalis meyakini bahwa wahyu adalah titik manusia menuju pencerahan peradaban. Wahyu merupakan hasil akhir dalam mencari sebuah kebenaran. Dengan demikian untuk mendapatkan sebuah konsep peradaban dalam kehidupan bemasyarakat hanyalah dengan mengembalikanya manusia pada agama sebagai aplikasi pewahyuan untuk pemaknaan terhadap alam. Agama merupakan sesuatu yang di wakyukan oleh Allah kepada manusia untuk menentukan sikap dan pola piker manusia. Islam dengan ayat-ayat yang di kitabkan dalam al-qur’an adalah menjadikan rujukan utama dalam mengolah hidup untuk mencapai sebuah peradaban. Agama dijadikan sebagai pelarian ketika manusia jauh dari sebuah peradaban. Ketika terjadi kemerosotan dan kehancuran serta kerusakan moral bangsa, maka agama menjadi jalan keluar seakan dengan pemahaman bahwa pada saat manusia telah di penuhi dengan berbagai pegentahuan keagamaan menjadikan terbentuknya sebuah peradaban.

Berbeda dengan pemahaman kelompok liberal, manusia memiliki kebebasan dalam memahami peradaban. Sebuah kebenaran terbentuk berangkat dari sebuah pengetahuan manusia. Dengan akalnya, manusia dapat menemukan sebuah pola hidupnya. Sebuah peradaban tidak akan terbentuk hanya dengan sebuah ajaran agama, tetapi bagaimana kita bisa memposisikan agama sebagai bahan untuk mengkaji sebuah realitas. Bukanlah ralitas mengkaji agama tetapi sebaliknya agama mengkaji realitas.
Kalau kita melihat perkembangan peradaban bangsa Buton sekarang ini, maka penulis lebih sepakat dengan kelompok kedua, bahwa peradaban tidak akan tercipta tanpa penyeimbangan kepahaman dalam hal ketuhanan dengan kemanusiaan dan alam. Pengaruh kebobrokan dan kehancuran tidak lagi berangkat dari satu arah. Kebobrokan tidak lagi berangkat dari sebuah kebebasan manusia dan semakin menjauhnya dari tuhanya. Tetapi sebaliknya manusia telah dikungkung dengan satu pahaman dan terikatnya manusia pada kepahaman bahwa Tuhan harus di sembah dengan secara bersama dalam bentuk yang sama. Padahal tuhan menurunkan perbedaan dan kebergaman agar kita dapat berpikir.

Sebagimana ayat yang menjelaskan bahwa “telah kuciptakan laki-laki dan perempuan,dan kujadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa li taarafu (agar kamu berpikir)” yang terjadi sekarang ini pengungkungan pola pikir manusia dengan ajaran kewahyuan. Seakan akal tidak mampu memaknai sebuah wahyu.
Rene Descartes; ”aku berpikir maka aku ada”, tidaklah jauh perbedaan manusia dengan binatang, hanyalah akalnya. “al insaanu haiwanu nautiq” (manusia adalah binatang yang berakal). Manusia dalam hidupnya dapat memanfaatkan pikirannya maka ia telah mendapatkan eksistensi kemanusiaanya, sebaliknya ketika manusia tidak mampu mengolah akalnya dalam hidupnya maka dia kal al-An’am (bagaikan binatang).
Untuk menjadikan masyarakat buton sebagai masyarakat beradab maka ia harus mempergunakan akalnya. Kobobrokan masyarakat intelektual sampai pada masyarkat awam karena di sebabkan adanya keegoan dan keserakahan. Kesenjangan sangatlah jelas terjadi di buton. Mobil Avaza, Toyota, Inova sampai Inovi harus berjalan di setapak-setapak tempat masyarkat dimana dalam keseharianya harus berbanting tulang demi mendapatkan makanan untuk sehari. Gedung menjulang tinggi disekitar rumah-rumah kumuh yang beratapkan langit dan beralaskan bumi. Tidaklah sadar wahai manusia. Tuhan tidak hanya mencoba dengan kesengsaraan tetapi kemewahan adalah sebuah cobaan yang nyata.

Ketika Masyarakat buton kembali sadar akan makna hidup yang tiada lain hanyalah sebuah fatamorgana material. Kehidupan hanyalah sebuah keniscayaan dari kemanusiaan untuk memahami keberadaanya. Peradaban akan terbentuk ketika keniscayaan itu dapat di pahami. Kemajemukan akan tejalin ketika bisa memahami diri dengan realitas sekelilingnya. Alam hanyalah pemeran pembantu untuk bisa memaknai keberadan dan eksistensi. Hanyalah kepluralan yang bisa berkomunikasi dengan keheterogenan masyarakat buton. Peradaban akan tercapai ketika masyarakat memahami sekelilingnya dengan perbedaanya. Diantaranya, sebagai masyarakat yang beragam atau masyarakat heterogen, yang dituntut adalah sejauhmana kita mengimplementasikan nilai-nilai kepedulian dalam sebuah keberagaman. Sikap-sikap kebajikan dapat dilihat dari model kekuasaan, keyakinan dan kepedulian, yang mencerminkan komitmen pada keadilan, cinta, kasih sayang, kejujuran, empati, belas kasih dan solidaritas pada sesama.(ed)

No comments: