kritik paradigma sekolah dan bersekolah
Beberapa semester mungkin telah kita lalui dan tanpa sadar kita sekarang berada pada semester yang makin tinggi. Orang bilang semakin “maju”, semakin besar pula tantangan yang akan kita hadapi. Dan persoalan yang tak henti-hentinya mengiringi kita adalah komersialisasi pendidikan yang membuat sebagian dari “pemikir-pemikir” mencari cara menyelesaikannya. Yang mengherankan sebenarnya adalah mengapa terkadang kita tidak pernah peduli dengan hal-hal itu. Sebagian dari kita cenderung hanya memikirkan tentang bagaimana cara untuk tampil menarik di depan orang daripada harus memikirkan masalah menyangkut eksistensi mereka sebagai seorang agen moral ataupun agen pembaharu dan agen-agen lainnya.
Kita tidak pernah sadar akan keberadaan diri kita sebagai seorang anak manusia yang memiliki tanggung jawab besar terhadap diri kita, keluarga, masyarakat dan yang lebih penting adalah tanggung jawab terhadap Sang Pencipta. Siapa Aku?, Darimana Aku datang?, Kemana aku akan pergi?, Kepada siapa aku akan percaya?, --pertanyaan-pertanyaan yang sekilas tampak lucu dan mudah-- ternyata merupakan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang membuat orang menjadi “gila” dalam mencari jawabannya.
Salah satu yang menjadi tujuan dari hidup kita sebenarnya adalah ketika kita mampu menjawab semua pertanyaan itu, pertanyaan yang intinya adalah bagaimana kita mendewasakan/memanusiakan diri kita dan bukan membinatangkan diri kita. Hal ini mungkin seperti apa yang menjadi tujuan daripada pendidikan yaitu memanusiakan manusia.
Pertanyaannya adalah apakah sistem pendidikan kita selama ini telah mewujudkan tujuan tersebut?, jawabannya adalah tidak sama sekali. Sekolah dan Perguruan Tinggi (saking tingginya tidak mampu dijangkau masyarakat rendahan) ternyata hanya mampu mencetak manusia-manusia yang tidak pernah menyadari eksistensinya sebagai seorang manusia malah sebaliknya terjadi dehumanisasi. Sekolah dan Perguruan Tinggi ternyata hanya mampu mencetak manusia-manusia tua, bukan manusia-manusia dewasa. Sangat jauh sekali dengan apa yang menjadi tujuan dari pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan kita pada dasarnya tidak memiliki tujuan yang jelas. Ditambah lagi dengan pola pemikiran dan pemahaman yang telah menjerat peserta didik yaitu Amtoneserisme (paham mengenai tujuan pendidikan adalah untuk menjadi pegawai atau bekerja). Tidak heran ketika kita melihat bangsa kita selalu jadi bangsa pekerja (dengan TKI-TKI-nya) dan bukan yang mempekerjakan.
Apa yang menjadi tujuan kita harus sekolah/kuliah? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab bahwa tujuan sekolah/kuliah adalah untuk dapat bekerja. Lalu apa bedanya dengan tukang becak, tanpa sekolah sekalipun mereka dapat bekerja. Atau mungkin yang menjadi tujuan kita sekolah adalah untuk mencari ilmu? Kalau memang tujuan kita sekolah/kuliah adalah untuk mencari ilmu, mengapa kita harus membuang-buang waktu/uang yang banyak untuk mencari ilmu di sekolah. Bukankah tanpa harus sekolah kita bisa mencari dan mendapatkan ilmu apapun, tak terkecuali ilmu Hitam?
Mengapa kita tidak mencoba untuk keluar dari sistem pendidikan yang menindas dan membunuh kreatifitas kita ini. Dan belajar di Sekolah Besar’ Kehidupan’ agar kita bisa menghargai dan menghormati pendapat orang lain, tidak arogan, tidak menang sendiri, tidak mendahulukan kepentingan golongan, tidak selalu mengekor ataupun tidak selalu bangga serta terlena dengan sejarah masa lalu sementara kita sekarang (sadar atau tidak sadar) berada dalam kebodohan dan kedunguan.
Beberapa semester mungkin telah kita lalui dan tanpa sadar kita sekarang berada pada semester yang makin tinggi. Orang bilang semakin “maju”, semakin besar pula tantangan yang akan kita hadapi. Dan persoalan yang tak henti-hentinya mengiringi kita adalah komersialisasi pendidikan yang membuat sebagian dari “pemikir-pemikir” mencari cara menyelesaikannya. Yang mengherankan sebenarnya adalah mengapa terkadang kita tidak pernah peduli dengan hal-hal itu. Sebagian dari kita cenderung hanya memikirkan tentang bagaimana cara untuk tampil menarik di depan orang daripada harus memikirkan masalah menyangkut eksistensi mereka sebagai seorang agen moral ataupun agen pembaharu dan agen-agen lainnya.
Kita tidak pernah sadar akan keberadaan diri kita sebagai seorang anak manusia yang memiliki tanggung jawab besar terhadap diri kita, keluarga, masyarakat dan yang lebih penting adalah tanggung jawab terhadap Sang Pencipta. Siapa Aku?, Darimana Aku datang?, Kemana aku akan pergi?, Kepada siapa aku akan percaya?, --pertanyaan-pertanyaan yang sekilas tampak lucu dan mudah-- ternyata merupakan pertanyaan-pertanyaan yang terkadang membuat orang menjadi “gila” dalam mencari jawabannya.
Salah satu yang menjadi tujuan dari hidup kita sebenarnya adalah ketika kita mampu menjawab semua pertanyaan itu, pertanyaan yang intinya adalah bagaimana kita mendewasakan/memanusiakan diri kita dan bukan membinatangkan diri kita. Hal ini mungkin seperti apa yang menjadi tujuan daripada pendidikan yaitu memanusiakan manusia.
Pertanyaannya adalah apakah sistem pendidikan kita selama ini telah mewujudkan tujuan tersebut?, jawabannya adalah tidak sama sekali. Sekolah dan Perguruan Tinggi (saking tingginya tidak mampu dijangkau masyarakat rendahan) ternyata hanya mampu mencetak manusia-manusia yang tidak pernah menyadari eksistensinya sebagai seorang manusia malah sebaliknya terjadi dehumanisasi. Sekolah dan Perguruan Tinggi ternyata hanya mampu mencetak manusia-manusia tua, bukan manusia-manusia dewasa. Sangat jauh sekali dengan apa yang menjadi tujuan dari pendidikan itu sendiri. Sistem pendidikan kita pada dasarnya tidak memiliki tujuan yang jelas. Ditambah lagi dengan pola pemikiran dan pemahaman yang telah menjerat peserta didik yaitu Amtoneserisme (paham mengenai tujuan pendidikan adalah untuk menjadi pegawai atau bekerja). Tidak heran ketika kita melihat bangsa kita selalu jadi bangsa pekerja (dengan TKI-TKI-nya) dan bukan yang mempekerjakan.
Apa yang menjadi tujuan kita harus sekolah/kuliah? Sebagian besar dari kita mungkin akan menjawab bahwa tujuan sekolah/kuliah adalah untuk dapat bekerja. Lalu apa bedanya dengan tukang becak, tanpa sekolah sekalipun mereka dapat bekerja. Atau mungkin yang menjadi tujuan kita sekolah adalah untuk mencari ilmu? Kalau memang tujuan kita sekolah/kuliah adalah untuk mencari ilmu, mengapa kita harus membuang-buang waktu/uang yang banyak untuk mencari ilmu di sekolah. Bukankah tanpa harus sekolah kita bisa mencari dan mendapatkan ilmu apapun, tak terkecuali ilmu Hitam?
Mengapa kita tidak mencoba untuk keluar dari sistem pendidikan yang menindas dan membunuh kreatifitas kita ini. Dan belajar di Sekolah Besar’ Kehidupan’ agar kita bisa menghargai dan menghormati pendapat orang lain, tidak arogan, tidak menang sendiri, tidak mendahulukan kepentingan golongan, tidak selalu mengekor ataupun tidak selalu bangga serta terlena dengan sejarah masa lalu sementara kita sekarang (sadar atau tidak sadar) berada dalam kebodohan dan kedunguan.
No comments:
Post a Comment