Monday, December 24, 2007

Menari Dengan Topeng Agama

Oleh: Sofyan Saliwu

Dunia kontemperorer nyaris tidak bisa lagi dipisahkan dengan nilai-niali dan kehidupan industrial yang kapitalistik. Setiap langkah, tindakan dan kegiatan orang dan kelompok cenderung bersifat profit oriented. Kegiatan agama pun sengaja atau tidak sengaja juga berada dalam bingkai semacam itu.

Fenomena disekitar kita memperlihatkan banyaknya ritual keagamaan mulai istighatsah hingga dzikir akbar bersama yang mengarah kuat dikemas dengan pola-pola yang sarat dengan ukuran layak jual tidaknya acara tersebut bagi masyarakat luas. lihat saja, masyarakat lebih mengidolakan agamawan yang bergaya “selebriti” yang menarik dipanggung pertunjukan ketimbang tokoh yang benar-benar menguasai agama dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Media massa terutama elektronik tidak menyia-nyiakan peluang ini. Dari saat ke saat, televisi menayangkan momen-momen keagamaan semacam itu melalui siaran langsung maupun tunda. Dengan pola ini, keuntungan materi mengalir bukan hanya ke kantong agamawan selebriti, tetapi juga kemedia massa elektronik. Masyarakat juga menikmati entertainment religion ini sama seperti mereka menikmati tayangan yang bersifat hiburan lainnya.

Agama Ekshibisionistik

Fenomena itu menyuguhkan kehadiran model keberagamaan yang kendati tidak sama sekali baru, tetapi memilki perbedaan dengan pola-pola sebelumnya. Model keberagamaan ini sering (meskipun tentunya tidak sekali) berimbas pada terjadinya upaya mendulang “emas” dengan mengatasnamakan agama. Pada satu pihak, para Da’I yang lebih menyerupai kaum selebritis entah karena alasan manajemen atau lainnya sering mematok harga cukup mahal untuk bisa hadir disuatu tempat atau tampil didepan kamera.

Dipihak lain, stasuin televisi yang menayangkan ritual tersebut mengalkulasi secara akurat untung rugi peliputan tersebut. Sebagai bagian dari gurita dunia industri yang umumnya berkiblat ke dunia barat yang kapitalistik, stasiun tersebut tentu tidak akan gampang meliputnya apalagi secara live jika hanya mengeruk keuntungan tipis. Industrial agama ini kian lengkap melalui hadirnya event organizer dan sejenisnya yang akan mengatur ritual tersebut menjadi menarik dan layak ditonton.

Sebagai dampak atau bagian dari dunia industri, ritual keagamaan ekshibisionistik sangat tergantung pada kehadiran massa dan penonton yang banyak. Cara menarik orang lalu dikemas sedemikian rupa, misalnya melalui ikalan dengan ungkapan-ungkapan cukup membuai. Orang dan penontonpun datang dengan latar belakang beragam dan bisa belum saling mengenal satu dengan yang lain, serta dengan tujuan yang berbeda. Ada dengan niat datang untuk mencari tuhan (bisa bertemu atau tidak, itu persoalan nanti), ada yang sekedar ingin lari dari kepengapan kehidupan, dan ada juga yang ingin menyambang hidup dengan berjualan disekitar arena “pertunjukan”.

Minimalis

Hadirnya ritual keagamaan tersebut tentu tidak terkait dengan masalah boleh atau tidak boleh, apalagi halal atau haram. Persoalannya lebih merujuk pada ada tidaknya nilai-nilai spritualitas substantive yang terinternalisasi dan kemudian tereksternalisasi kepada “umat” yang melakukan upacara tersebut.

Melihat nuansa entertainment yang begitu kental dan keragaman yang hadir, dimana mereka tidak jarang membawa serta anak-anak mereka yang dibawa umur, sulit dipercaya ritual ekshibisionistik dapat memperkaya spritualitas mereka, apalagi jika dilihat suasan seusai ritual. Koran-koran bekas tempat duduk dibiarkan bertebaran disana sini, dan plastic bekas minuman berserakan. Selesai acara, mereka kembali kekehidupan mereka tanpa abai lagi dengan orang-orang sekitar, dan yang membawa mobil mewah tetap menunjukan keangkuhan mereka. Selebihnya, korupsi tetap marak, dan kebejatan yang lain tetap merajalela.

Ritual memang bukan lagi tata cara yang mengatur suatu praktik (ibadah), tetapi merupakan bagian dari praktik yang terdapat pada semua agama dan diluar agama, yang melibatkan simbol-simbol ekspresif yang intrinsic dengan perasaan diri dan cara hidup suatu komunitas.

Dalam konteks ritual keberagamaan ekshibisionis yang menggejala kuat pada diri sebagian bangsa saat ini, hal itu merupakan penanda bahwa mereka (atau jangan-jangan bangsa ini secara keseluruhan) masih berada pada tataran kehidupan yang lebih mengedepankan simbol dan hal-hal yang bersifat permukaan, dan belum mampu menyentuh hakikat dan tujuan kehidupan yang sebenarnya. œ

No comments: