Monday, December 24, 2007

Agama Dan Moralitas Politik

Oleh: Zainal Abidin

Ada ungkapan menggelitik yang dilontarkan oleh maestro sastra Indonesia –Pramoedya Ananta Toer- berkenaan dengan perilaku keagamaan orang Indonesia. Ia mengatakan, banyak ‘pandir-pandir beragama’ dalam masyarakat Indonesia. ‘Pandir’ sinonim dengan kata dungu atau bodoh. Kita boleh tidak setuju dengan apa yang dikatakan Pramoedya, namun apa yang dikatakannya bukannya tidak berdasar. Setidaknya demikianlah realitas yang ada.

Memang kalau diamati secara seksama, fakta membenarkan apa yang dinyatakan Pram di atas. Agama belum menjadi etos dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Kita beragama hanya pada tataran simbol-simbol, tampilan luar atau atribut semata. Kita menilai kesalehan sejauh mana seseorang rajin menjalankan ibadah ritual seperti sembahyang, berpuasa, atau naik haji. Kesadaran agama hanya dilihat dengan banyaknya atau sejauh mana megahnya mesjid yang dibangun, maraknya majelis taklim dan yang paling naïf, komitmen ketaatan diukur dengan sejauhmana pemakaian simbol semacam jilbab diterapkan, atau berpakaian kearab-araban yang diklaim sebagai cara berpakaian islami atau berjenggot. Padahal Islam tidak ada hubungannya dengan pakaian atau jenggot. Bentuk ketaatan seperti ini hanyalah manifestasi dari apa yang dikatakan oleh intelektual Iran -Abdul Karim Soroush- sebagai kebenaran kecil, yang sebenarnya tidak lepas dari pengaruh kontkes budaya dimana Islam dilahirkan.

Yang dilupakan, sebagai umat beragama atau umat Islam, yang dituntut adalah sejauhmana kita mengimplementasikan nilai-nilai kebajikan yang bersumber dari ajaran etis agama. Sikap-sikap bijak dapat dilihat dari model beragama yang mencerminkan komitmen pada keadilan, cinta, kasih sayang, kejujuran, empati, welas asih, dan solidaritas pada sesama. Nilai-nilai inilah yang menurut terminologi Abdul Karim Soroush disebut sebagai kebenaran besar. Nilai-nilai yang menjadi inti atau pesan dasar Islam dan semua ajaran agama. Inilah yang disebut dengan prinsip-prinsip universal yang melampaui ruang dan waktu. Karena umat banyak mengabaikan nilai-nilai dasar dan universal ini, maka bangsa ini terjebak dalam lingkaran setan krisis yang entah kapan berakhirnya.

Seseorang dianggap menjalankan agama secara otentik jika ia mampu menyeimbangkan antara praktek etika dan pengamalan ritual. Praktek etika terkait dengan hubungan-hubungan sosial. Idealnya, praktek etika mengandaikan komitmen dan kesalehan sosial. Bahkan kalau kita menyelam ke akar-akar tradisi keagamaan kita yang otentik, Islam sangat menekankan nilai-nilai kebenaran dasar ini sebagai pijakan untuk membangun relasi dan pola interaksi dengan sesama. Akhlak mulia sebenarnya lebih berbicara pada tataran sosial dan pola perilaku dengan sesama. Pada individu pribadi, akhlak mulia membuahkan kejujuran, sedangkan dalam wilayah sosial dan publik, akhlak mulia akan mengarahkan seseorang untuk komitmen dengan keadilan. Dengan demikian akhlak mulia meniscayakan komitmen dan kesalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Lalu, adakah komitmen kita terhadap nilai-nilai utama tersebut? Sudahkah kita mewujudkan nilai-nilai keadilan, cinta, kasih sayang, empati, welas asih, kepedulian, dan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari? Pertanyaan ini sangat relevan jika kita menilik situasi kini. Hanya karena sahwat ekonomi dan politik, kita tidak segan-segan tertawa di atas penderitaan orang lain. Kita tidak mau menerima perbedaan. Kita begitu mudahnya mau membenarkan segala cara untuk mengamankan kepentingan pribadi dengan merugikan orang lain. Tanpa risih sedikitpun kita mengambil hak orang lain secara tidak sah.

Kita dengan telanjang mempertotonkan watak yang sangat rendah. Demi kepentingan pribadi, dengan menggunakan momen suksesi kepemimpinan baik nasional maupun daerah, kita tidak segan-segan melakukan kecurangan, kekerasan, politik yang culas, ancaman serta cara-cara kotor. Mata menjadi gelap dan sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Tidak peduli orang lain jatuh atau menderita. Rasa empati dan kepedulian sudah tergerus nyaris tak berbekas ketika kita dengan darah dingin menjegal pihak lain meskipun teman sendiri. Cara-cara tidak elegan ini hanya mencabik-cabik hubungan silaturrahmi dan memporak-porandakan kohesi masyarakat yang telah dibangun. Sangat menyedihkan, orang-orang yang nampak saleh, hanya membiarkan bahkan menganggapnya sebagai hal biasa.

Sebuah ironi, sikap politik yang tidak dewasa dan cara-cara primitif dipertotonkan oleh orang-orang –yang dalam kaca mata konvensional kita- taat menjalankan ibadah agama. Mungkin disinilah apa yang dikatakan oleh Pramoedya di awal tulisan ini menemukan pembenarannya, betapa banyak “pandir-pandir beragama” di negeri ini. Kita hanya cukup merasa beragama ketika kita rajin shalat atau rajin ke mesjid. Sebentuk ketaatan beragama egoistis yang mengantarkan kita pada kesadaran palsu. Agama disini, seperti kata Lenin, tidak ada bedanya dengan candu karena hanya menjadi tempat pelarian untuk menutupi kekotoran dan kelemahan yang kita lakukan. Agama hanya dijalankan sebatas simbol dan ritual atau hanya menjadi atribut belaka. Umat kebanyakan berislam hanya pada tataran kulit-kulitnya saja.

Apakah kita harus diingatkan terus-menerus apa yang disebut dengan akhlak mulia. Nabi berungkali menegaskan bahwasanya tujuan dari misi kenabiannya adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia dengan pesan dasar menegakkan keadilan dan kepedulian pada orang-orang menderita. Kebenaran kecil tidak apa-apa dikesampingkan demi tegaknya kebenaran besar. Marilah kita kembali ke kesadaran semangat religio etik. Akhirnya, mudah-mudahan kita tidak termasuk apa yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer “pandir-pandir beragama”. Atau sebenarnya kita memahami, tetapi karena tendensi eknomi politik sempit, kita masa bodoh. Maka jika demikian, kita mengingkari nurani kita. Wallahu ‘alam. œ

1 comment:

Anonymous said...

cafelib.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading cafelib.blogspot.com every day.
online cash advance
payday advance