Monday, December 24, 2007

Sinetron Religi dan Tragedi Tuhan

Abad ke 16 merupakan awal penentangan terhadap agama setelah ia hanya menjadi topeng untuk menutupi buasnya penguasa melalui otoritas gereja untuk memangsa kehidupan rakyat. Kondisi agama yang hanya menjadi topeng itu memunculkan nama-nama seperti Feurbach, Freud dan Nietzche yang membawa bendera ateisme. Jika Feurbach dalam proyek pemusnahan agama lebih menekankan pada pandangan bahwa teologi adalah anthropologi dan Freud pada konsep bahwa beragama adalah sebuah bentuk kekanak-kanakan, maka Nietzche lebih memilih membunuh Tuhan.
“Tuhan telah Mati!” teriak Nietzche. Melalui filsafat manusianya yang memandang bahwa keutamaan manusia adalah kehendak untuk berkuasa, Nietzche kemudian mengatakan bahwa untuk menyadarkan manusia—bahwa manusia itu sendiri sebenarnya penentu dari kehidupaannya—ia harus memalingkan paradigma theosentris (pemusatan pada tuhan) pada anthroposentris (pemusatan pada manusia).

Apa yang diteriakkan Nietzche tersebut adalah refleksi dari kekecewaan terhadap kondisi agama pada saat itu dimana pada satu sisi konsep agama hanya menjadi alat kaum aristocrat untuk menundukkan kritik budak terhadap eksistensi kekuasaannya yang bobrok dan menindas, dan disisi lain agama hanya menjadi pelarian para budak untuk melipurkan lara dari ketidakberdayaan dan menunggu balasan surga di akhirat atas kesengsaraan mereka di dunia.

Para aristocrat yang menggunakan agama untuk meredam kritik dan perlawanan para budak hingga kemudian digugat Nietczhe, freud dan feurbach diatas, akan kita temukan juga dalam fenomena sinetron religi dalam kepastian implikasinya terhadap kerangka pikir masyarakat tentang kehidupan. Dan jika kritik Nietzche mencakup seluruh kajian tentang agama termasuk konsep ketuhanan, maka dalam tulisan ini saya hanya akan mengkaji fenomena sinetron religi yang berbahaya dan telah mempersempit makna agama dan keberagamaan.

Kepasrahan pada realitas
Dalam kehidupan social politik Indonesia, degradasi moralitas pemimpin-pemimpin dalam wujud korupsi, kolusi dan nepotisme serta penindasan yang berbuah kelaparan dan kemiskinan rakyat adalah sebuah kenyataan dan tak terbantahkan. Sejak Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri pada tahun 1945, rakyat selalu merindukan sebuah kepastian hidup dalam ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan. Tetapi kepastian yang selalu didapatkan hanyalah ketidak pastian dari harapan-harapan itu. Kenyataan selalu saja mengabarkan absurdnya ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan yang selalu dirindukan itu. Kenyataan carut marutnya kehidupan berbangsa ini kemudian tercermin dari label-label yang sering disandangkan pada negeri ini. Label-label itu seperti Republik Sarang Penyamun, Republik Maling, Negeri Para Tersangka, dll.
Di tengah kebobrokan para pemimpin-pemimpin, tiba-tiba saja agama dalam sinetron religi pada bangsa yang konon beragama ini, ditampilkan dalam bentuk yang justru melegitimasi kondisi kebobrokan itu. Sinetron religi yang memenuhi ruang televisi sejak beberapa bulan terakhir seperti Rahasia Ilahi, Takdir Ilahi, Hidayah, dll selalu dihadirkan dalam nuansa mistis, magis juga horror telah memberikan sebuah gambaran jelas bahwa agama hanyalah sebuah kepasrahan pada realitas.

Sinetron religi yang hadir hampir pada semua stasiun televisi ini memiliki kesamaan dalam pembangunan konsep tentang realitas orang-orang durjana. Konsep bahwa keberadaan orang-orang durjana itu adalah suatu kemutlakan pada kehidupan manusia. Bahwa dalam kondisi rusak bagaimanapun, kita harus meyakini serta menerima bahwa itu adalah kemutlakan atau takdir dari tuhan. Selanjutnya kita hanya perlu bersabar dalam menghadapinya dan terus menerus berdoa dalam keyakinan pada kepastian penyelesaian langsung dari tuhan itu sendiri melalui bencana.

Parahnya lagi, irasionalitas dilukiskan sebagai wajah asli dari agama. Apa yang seyogyanya terjadi pada agama yakni kemampuan dalam mengikuti kerangka berpikir logis dan rasional dalam memahaminya, dalam sinetron religi tak terlihat sedikitpun. Ini bisa dilihat dari aroma magis dan mistik dalam setiap setiap cerita yang ada. Hal yang ironis terjadi juga pada penyelesaian terhadap persoalan-persoalan dalam kehidupan manusia oleh tuhan. Misalnya bencana bagi manusia durjana ataupun rezki kekayaan yang melimpah bagi orang sabar. Semuanya itu terjadi dengan tiba-tiba seperti jatuh dari langit dan tanpa adanya suatu proses kausalitas material ataupun proses dialektis yang menjadi salah satu standar kebenaran sebuah hal dalam kosmos manusia seperti usaha dan kerja dalam pencapaian suatu tujuan.

Koreksi Sosial
Dalam kondisi ini, agama seperti disuarakan Eko Prasetyo dalam argumen-argumen pasti yaitu sebagai sumber perlawanan terhadap kemungkaran social, dalam sinetron religi menjadi tidak terlihat. Padahal agama semestinya diperlakukan sebagai sistem keyakinan dan sistem makna yang muncul dan terwujud dalam kehidupan sosial melalui interaksi responsif serta koreksi terhadap situasi-situasi kehidupan menyimpang yang dihadapi oleh para penganutnya.

Disinilah kemudian akan terjadi aliansi antara agama dan kekuasaan. Betapa tidak, paradigma kepasrahan yang terbangun dari sinetron religi sangat mungkin menjadi alat pendamai bagi kritik terhadap pemimpin-pemimpin korup yang selalu mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Jika apa yang ditunjukkan dalam sinetron religi ini yaitu kesabaran tanpa batas dalam menghadapi segala kemungkaran dan hanya menawarkan sebuah cara penyelesaian yaitu berdoa ini telah mempengaruhi pola pikir masyarakat, maka keberadaan para pelaku kriminal mulai dari tingkat amatir hingga professional akan menempati posisi yang tidak bisa diganggu gugat.
Begitupun para Ustadz yang selalu memberikan khotbah-khotbah singkat pada akhir cerita dalam setiap sinetron religi, secara tidak sadar telah menjadi patron lunak penguasa yang telah menyediakan seperangkat pembenaran teologis dari tindakan mereka, betapapun bertentangan dengan norma religius itu sendiri. Keberadaan para Ustadz pada masa dimana gairah keberagamaan ini meningkat memang sangat ironis. Orang-orang seperti artis yang bisa menyebut satu dua ayat saja di depan umum telah menjadi ustadz.

Sebuah Keharusan
Di zaman modern ini, agama sebagai yang paling kuat menanamkan pengetahuan (ide) yang menanamkan keyakinan kepada manusia tentang adanya kekuatan yang transendental secara gradual semakin terkikis. Alasan mengapa banyak orang berkesimpulan seperti itu, adalah karena manusia tidak lagi memiliki kesadaran bahwa hidupnya tidak hanya dilindungi oleh sesuatu yang bisa dilihat dan dipahami saja, melainkan juga oleh sesuatu yang tidak bisa dilihat dan—karenanya—tidak bisa dipahami.
Konsep magis dan mistik yang menjadi wajah sinetron religi hanya mengajarkan untuk memperhatikan dan mengetahui bahwa manusia dalam hal kebahagiaan dan kesengsaraannya adalah garis nasib yang sudah ditentukan. Satu dari konsekuensi niscaya konsep ini adalah hilangnya kesadaran akan aksi nyata social yang terbangun dari nilai-nilai spiritual yang bersifat trasendental tersebut. Apabila sinetron religi terus menempatkan agama pada posisi yang mendustai keniscayaannya dalam penjelasan tentang dunia material dari spirit yang terkandung dalam dogma-dogmanya, maka agama justru akan mengalami fragmentasi akut.

Akan tetapi, jika landasan yang membangun paradigma keberagamaan seperti yang tergambar dalam sinetron religi diklaim sebagai suatu kebenaran mutlak tentang aksistensi agama itu, maka agama dengan segudang dogmanya termasuk konsep ketuhanan hanyalah akan menjadi candu bagi masyarakat. Berangkat dari sudut pandang ini, penghancuran agama dan pembunuhan tuhan seperti yang suarakan Nieztche menjadi sebuah keharusan. Tentu saja, untuk mengembalikan kesadaran masyarakat tentang realitas penindasan dan kebobrokan penguasa. (*)

No comments: