Monday, December 24, 2007

Robohnya Kesalehan Sosial


Oleh: Sofyan Saliwu

Suatu metafora kesalehan, yang diratapi bukan bangunan fisik tatapi “suatu kesucian yang bakal roboh.“ Kesalehan yang dimaksud bukan kesalehan individual yang ditandai dengan kesalehan ritual agama melainkan kesalehan social.

Alkisah, Tuhan diakhirat sedang memeriksa antrean yang panjang orang-orang yang sudah meninggal. Giliran Saleh diperiksa. Ia tersenyum merasa yakin masuk surga. Ketika ditanya apa saja yang dilakukannya selama hidup, ia menjawab dengan lancar. Menyembah Tuhan dan menyebut Nama-Nya, membaca kitab suci, memiliki pengetahuan iman, menjalankan rukun agama, tidak berbuat dosa.

Ketika ditanya lagi apa saja yang dilakukannya selain itu, Saleh merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun tak ada lagi yang bisa dikatakannya. Mengherankan lagi, ketika orang yang lain yang lebih saleh dari dirinya ternyata bernasib sama.

Tak pelak terjadi kasak-kusuk diantara orang-orang yang dinerakakan itu. Mereka tidak puas dengan vonis itu. Standar penghakiman Tuhan dianggap tidak jelas. Lalu, mereka memberanikan diri menghadap Tuhan untuk minta penjelasan.

“Dimana kalian tinggal?” Tuhan bertanya

“Di Indonesia”

“negeri yang tanahnya subur, sampai tanaman tumbuh tanpa ditanam? Negeri yang tambangnya kaya raya itu ?”

‘Benar, Tuhan…”

“Tetapi penduduknya banyak melarat ? Negeri yang selalu kacau karena kalian suka berkelahi, sementara kekayaan alam kalian dikeruk orang lain?”

“Benar, Tuhan, kami tidak peduli dengan kekayaan alam kami. Yang penting, kami menyembah dan memuji-Mu.”

“Engkau rela tetap melarat? Juga anak cucumum ikut melarat?

“Tidak apa-apa, Tuhan, asal mereka taat beragama.“

“Meski ajaran agama itu tidak masuk dihati ?”

“Masuk dihati, Tuhan.”

“kalau masuk dihati, mengapa kalian membiarkan diri tetap melarat sehingga anak cucu kalian teraniaya, kekayaan alam diambil orang lain untuk anak cucu mereka? Mengapa kalian lebih suka saling menipu dan memeras? Aku beri kalian negeri yang kaya, namun kalian malas dan tidak suka bekerja keras. Kalian lebih suka beribadah. Kalian kira Aku mabuk pujian atau suka disembah?

Semua terdiam dan tahulah mereka kini apa yang diridhoi Allah.

Masih penasaran, Saleh bertanya, “Apakah salah menyembah-Mu, tuhan ?”

“Tidak salah.tetapi kesalahan terbesar adalah terlalu mementingkan diri. Kau taat sembahyang karena takut masuk neraka. Kau melupakan kehidupan anak istrimu dan kaummu sehingga mereka tetap melarat.

Reifikasi Kesalehan

Manivestasi keimanan sering terkungkung visi tempat ibadah. Potensi ekonomi umat di investasikan untuk bangunan yang tersusun dari batu-batu mati, bukan batu-batu hidup, yakni umat yang saleh. Maka, salah satu obsesi kesalehan umat di negeri yang bersila ketuhanan ini adalah membangun tempat ibadah, kalau perlu, megah. Demi kemuliaan Tuhan, katanya. Hidup saleh seolah-olah harus berbiaya tinggi. Bulan februari lalu, wakil presiden jusuf kalla meresmikan enam proyek milik pemerintah Kalimantan Timur. Dari anggaran pendapatan dan belanja daerah 2007 yang berjumlah Rp 4,258 triliun, tiga proyek bendungan pengendali banjir bernilai Rp 86,916 miliar. Namun, sebuah pusat kegiatan keagamaan dibangun dengan biaya Rp 550 miliar, hamper 13 % dari anggaran pendapatan belanja daerah.

Komentar serius Wakil Presiden saat itu, paling yang hadir sembahyang pagi 30 orang, tapi bangunannya setengah triliun. “Dana sebesar itu seyogyanya bisa dimanfaatkan langsung untuk kesejahteraan rakyat. Untuk memperbaiki gedung sekolah yang roboh, untuk membangun sekolah kejuruan, membangun rumah sakit, memberikan pembekalan kepada para santri dengan keterampilan hidup mandiri atau memulai usaha kecil.

Indonesia tergolong peringkat atas sebagai Negara terkorup di Asia, namun tak tampak korelasi antara peningkatan kesalehan dan berkurangnya korupsi. Energi umat sering dihamburkan untuk membela agama dan reifikasi kesalehan. Jika energi itu disalurkan untuk memerangi korupsi, kemiskinan dan kebodohan, niscaya peringkat Indonesia dimata dunia akan jauh lebih baik.

Reorientasi Kesalehan

Mengapa modal social yang begitu besar tidak mendorong kemajuan dan peradaban bangsa? Jawabannya adalah ketiadaan visi kesalehan social. Kesalehan terhenti pada tataran individual dan berfungsi sebatas penentu identitas kerlompak. Kesalehan hanya berorientasi dunia akhirat dan ketenangan batin. Kesalehan seperti itu sudah dijinakkan dan tidak berbahaya bagi status quo.

Perlu transformasi sebagian energi kesalehan manjadi amunisi kritik social. Itulah agama profetis. Agama yang berpihak pada yang lemah dan tertindas. Agama yang membuat pejabat korup merasa tidak nyaman. Kesalehan social memupuk daya kritis dan daya juang umat. Rakyat akan geram melihat korupsi, dari pada berkolaborasi dengan penguasa, pemuka agama menjaga jarak agar masih bisa menegur penguasa ketika saleh.

Meskinya kebangkitan agama-agama di tanah air diikuti orientasi kesalehan yang baru. Agama transformative dan yang membebaskan. Itu sebuah modal social yang besar untuk bangkit dari keterpurukan. Jangan sampai kesalehan yang berkembang malah melemahkan motivasi umat untuk mengupayakan kesejahteraan di dunia. Lari dari dunia nyata membuat agama bagai candu masyarakat.

Orientasi baru kesalehan akan ikut memberi solusi bagi problem social sebab kesalehan itu membangun etos kerja. Kita akan menjadi bangsa yang dihormati dan didengar suaranya, jika produktivitas bangsa meningkat dan perekonomian kuat. Kehormatan bangsa dibangun diatas kesalehan social. œ

No comments: