
Oleh: Zainal Abidin
Persoalan pendidika zaman sekarang ini di berbagai negara dipandang sebagai problem yang sangat luar biasa sulit, namun semua negara - tanpa kecuali - mengakui pendidikan sebagai tugas negara yang paling penting. Orang-orang yang ingin membangun dan berusaha memperbaiki keadaan dunia tentu menyatakan bahwa pendidikan merupakan kunci, dan tanpa kunci itu usaha mereka akan gagal.
Cara dan sistem pendidikan yang sudah berakar dalam dan bertahan lama sebenarnya membutuhkan penyesuaian sedikit agar dapat berjalan terus dengan lancar. Namun, sekarang cara dan sistem pendidikan ini sering menjadi sasaran kritik dan kecaman karena seluruh daya guna sistem pendidikan tersebut diragukan. Generasi muda zaman sekarang ini banyak yang terang-terangan memberontak terhadap metode-metode dan lembaga-lembaga pendidikan lama itu. Dan tidak selalu mudah untuk dapat menentukan dengan tepat berapa besar bagian kegelisahan umum dan ledakan semangat berontak di kalangan generasi muda itu harus dipandang sebagai yang disebabkan oleh alasan tersebut.
Menurut Edgar Faure bahwa sudah menjadi kegelisahan berabad-abad lamanya, bahwa pendidikan dengan amat mudah diperalat untuk melayani kepentingan masyarakat semata-mata. Maksudnya, dalam pendidikan anak didik ditempa secara tidak seimbang, sehingga kelak mereka lebih makin tersedia sebagai “alat yang berguna” bagi masyarakat. Memang keliru jika pendidikan tidak berguna sama sekali bagi kepentingan masyarakat. Tapi sangatlah keliru jika pendidikan memutlakkan kepentingan masyarakat tersebut, sebab tujuan pendidikan bukanlah pertama-tama melayani masyarakat, melainkan membantu kelahiran manusia-manusia dewasa dan matang.
Kegelisahan ini merupakan imbas dari pergeseran dalam cara memandang (paradigma) pendidikan. Pergeseran ini setidaknya dapat ditelusuri jauh ketika dimulainya revolusi industri yang merupakan benih-benih dari Renaissance yang melanda Eropa setelah melewati periode gelap abad pertengahan. Masyarakat yang tadinya hidup dalam pola kultur agraris beralih menjadi masyarakat industri seiring dengan semakin vitalnya penguasaan modal. Semua kegiatan dan hasil produksi dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi jika itu menyangkut kegiatan produksi yang dihasilkan industri (pabrik). Maka dimulailah era kehidupan kapitalisme menggantikan era kehidupan feodalisme. Sistem yang kapitalistik telah merasuk begitu jauh hingga nyaris tidak ada celah kehidupan manusia yang luput darinya.
Dalam pendidikan pun demikian. Ilmu pengetahuan yang sejalan dengan tujuan di atas diberi prioritas. Disiplin keilmuan yang dianggap terpandang hanyalah disiplin ilmu yang sifatnya teknis terapan sebagai penunjang produksi industri. Implikasinya, terjadilah dikotomi dan sekat keilmuan yang tajam. Ilmu-ilmu positif (eksak) menempati posisi superior dibanding dengan ilmu-ilmu lainnya. Siswa hanya dianggap memiliki nilai lebih jika siswa tersebut mampu menguasasi ilmu-ilmu pasti. Orang hanya berlomba-lomba memasuki disiplin ilmu yang alasannya masa depan lebih menjanjikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Kita belajar di institusi-institusi pendidikan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang berjalan dalam kerangka logika kapitalisme yakni menghasilkan tenaga pekerja yang mendatangkan nilai ekonomis. Kita kemudian tidak ubahnya seperti robot-robot yang diformat sedemikian rupa tanpa sempat melakukan renungan atau refleksi atas tujuan hidup (eksistensi) kita yang sebenarnya. Kita mungkin sudah lupa atau pura-pura lupa bahwa tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah untuk menghasilkan generasi yang dewasa, mandiri dan berkepribadian, yang menjunjung moral dan etika yang kelak dengan bebas dan sadar dapat membantu masyarakat.
Tulisan ini tidak berpretensi untuk menegasikan sama sekali sistem pendidikan yang telah berjalan. Hanya saja ada sesuatu yang terlupakan dalam sistem pendidikan kita selama ini. Harus ada pemilahan yang tegas antara pendidikan dan pengajaran. Pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia sedangkan pengajaran dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga-tenaga terampil. Aspek-aspek yang bersentuhan dengan bakat dan kemampuan personal untuk menemukan kepribadian seharusnya mendapatkan porsi yang berimbang. Jadi, lebih daripada sekedar menghasilkan “kegunaan”, pendidikan juga perlu membantu mereka mengembangkan bakat kemampuan sosialnya agar masyarakat juga boleh ikut memetik keuntungan dari perkembangan mereka. Setiap pribadi punya defisit. Pendidikan adalah suatu proses kompensatoris yang membantu anak didik untuk sedapat-dapatnya menutupi defisit tersebut. Dengan demikian antara anak didik dan pendidik terjadi interaksi dialogis (dua arah) yang akan lebih memacu kreativitas anak didik.
Dalam pendidikan, aspek individual dan personal itu tidak boleh dikorbankan. Kendati demikian, tidaklah berarti bahwa pendidikan boleh membiarkan aspek itu berkembang bebas tanpa ukuran. Karena itu, pendidikan perlu mencegah, jangan sampai kebebasan menjadi kesemauan dan keseenakan sendiri. Janganlah pula kemandirian terbelokkan menjadi egoisme, atau rasa keadilan terjungkir menjadi pembenaran keadilan pribadi.
Aspek kemandirian harus pula dikedepankan. Menurut Pramoedya Ananta Toer, peserta didik harus dibekali dengan kemampuan produktif. Kemampuan produktif di sini dalam artian bagaimana peserta didik tersebut ketika kembali ke masyarakat nanti dapat memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya tanpa harus bergantung pada pihak lain atau harus menjadi pegawai di instansi-instansi pemerintah. Ini penting agar ketika menghadapi dialektika (pergulatan) hidup tidak mudah dibelokkan oleh kepentingan sesaat yang hanya membawa kemudaratan.
“lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah dan perguruan tinggi, ternyata hanya mampu mencetak manusia-manusia tua, bukan manusia-manusia dewasa”
Penulis: Sesepuh Cafe Lib, Alumni Program Studi Hubungan Internasional Universitas Hasanudin.
No comments:
Post a Comment